Rabu, 28 Oktober 2015

[Bagian 1] The power of du’a

Diposting oleh Corrina Heparti Novsyiami di 00.07
Reaksi: 
Do’a adalah salah satu “senjata” yang paling ampuh. Saya dan rekan pembaca tentunya sering memanfaatkan senjata ini, disaat darurat berdo’a sungguh-sungguh kemudian do’a dikabulkan dan setelahnya kadang lupa untuk bersyukur, astagfirullah, kadang saya benar-benar malu kalau sampai hari ini saya hanya berdo’a disaat darurat – padahal do’a harus selalu dilakukan. 

Saya ingin berbagi kisah tentang do’a. Saya sangat sadar bahwa sudah sangat banyak do’a saya yang menjadi kenyataan. Saya ingin flashback tentang diterima kuliah di FKG Unand, bagi saya yang mempunyai kemampuan intelektual yang tidak sebagus yang lain serta beban belajar yang tidak begitu padat ketika SMA tentu sangat bersyukur dapat diterima kuliah diUniversitas yang katanya terakreditasi A - 15 besar Univ top Indonesia dengan jurusan yang mungkin banyak orang inginkan – ketika ada yang bertanya apa resepnya saya hanya bilang do’a. Hampir setiap saat dikala akan mengikuti ujian tertulis saya merapalkan do’a dan Alhamdulillah menjadi kenyataan.


Ini adalah pengumuman kelulusan Universitas yang saya
 abadikan dari sebuah koran
sumber : dokumentasi pribadi


            Kemudian cerita do’a selanjutnya adalah momen wisuda. Ceritanya masih segar. Sekitar bulan januari – april 2015 saya disibukkan dengan skripsi yang merupakan kewajiban mahasiswa tahun akhir. Bagi saya dan teman-teman yang tidak ada tambahan kuliah disemester 8 maka hanya skripsi yang kami kerjakan sebelum wisuda. Unand dengan periode wisuda 4 kali (Februari, Mei, Agustus dan november) membuat saya dan teman-teman harus berlarian satu sama lain untuk dapat segera lulus S1 dan lanjut ke tahap selanjutnya.

              Tanggal yudisium sudah keluar – akhir april- teman-teman yang lain bahkan sudah bersiap dengan materi panum yang akan diujiankan selepas lulus S1. Nah saya ? saya masih harus mengulang penelitian yang dijadwalkan sudah selesai akhir maret. Tapi karena suatu hal pengambilan sampelnya diulang kembali. “Pengambilan sampel – lab dan pengolahan data” itulah yang saya kerjakan setiap hari sampai waktu yudisium semakin dekat. Saya sudah mulai menyerah dan meminta izin kalau akhirnya saya tidak diwisuda periode mei itu kepada orang tua dan orang-orang  terdekat yang selalu mendukung. Walaupun disisi lain do’a selalu saya rapalkan agar dapat diwisuda periode mei itu. 7 hari sebelum yudisium – kampus sudah ramai oleh teman-teman yang datang silih berganti kebagian akademik untuk melengkapi bahan yudisium. Saya hanya tersenyum ketika ada yang bertanya tentang penelitian saya dan lanjut ke pertanyaan, apakah “dapat” wisuda kali ini atau tidak. Mungkin karena saya memang sudah ikhlas tidak diwisuda kali itu – maka saya dapat menjawabnya dengan senyum tanpa ada rasa tersinggung.

Disaat yang lain sudah sibuk dengan yudisium - saya masih harus bermain dengan
tikus-tikus ini
sumber : dokumentasi pribadi
 6 hari sebelum yudisium saya masih bolak-balik kampus untuk bimbingan hasil dan  malangnya masih ada yang harus direvisi – setelah selesai revisi saya keluar ruangan dengan perasaan semakin kuat kalau saya tidak akan dapat wisuda kali itu sampai saya bertemu dengan sahabat saya “Lina Tri Wahyuni”. Kami bertemu didepan pintu akademik FKG Unand. Beliau kala itu sedang mengurus revisi ujian hasilnya. Dia bertanya bagaimana kabar skripsi saya. Saya hanya menjawab  bahwa saya ikut wisuda agustus. Dia kemudian menarik tangan saya dan berkata agak keras “hei, itu namanya sudah menyerah sebelum bertanding, saya saja masih mengusahakan loh dengan ini dan itu masa kamu sudah menyerah”  dan dia memerintahkan saya untuk kembali ke dosen pembimbing dan melobi beliau agar mau mengadakan ujian hasil untuk saya sebelum yudisium. Saya tidak membantahnya dan menghubungi dosen pembimbing saya sesuai dengan sarannya. Setelah melakukan percakapan panjang Alhamdulillah dosen pembimbing dan penguji  menyepakati ujian hasil saya dilakukan besok harinya (disini benar terasa kekuatan do’anya, 30 menit sebelumnya saya masih ditolak untuk ujian hasil dan diminta revisi lagi, tapi setelah saya berdo’a kembali dan menghadap lagi, ceritanya jadi berbeda, “maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kaudustakan”) 

           Ujiannya besok hari,  YA BESOK HARINYA. Resikonya saya  harus berlarian ke tempat fotocopyan untuk memprint semua bahan sidang saya yang ditunggu jam 12 siang kala itu. Saya hanya punya waktu 1,5 jam untuk mempersiapkan semuanya. Memprint berpuluh-puluh halaman. Menjilidnya menyelipkan surat undangan sidang dan menyerahkan bahan sidang kepada penguji dan pembimbing – kemudian resiko lainnya ialah revisian setiap hari dari pagi sampai magrib bahkan selepas sidang saya masih berada diruang sidang sampai magrib untuk memulai revisian. Saya bersyukur tak henti-hentinya bahkan hingga waktu yudisium datang saya masih tidak percaya bahwa saya yang awalnya sudah pasrah tidak akan diwisuda kali itu akhirnya bisa bergabung dalam formasi wisuda mei – karena saya adalah wisudawan mei yang sidang hasil paling akhir. Tentang momen ini ada banyak do’a disana, selain do’a saya tentu ada do’a orang tua, sanak saudara, sahabat yang senantiasa terucap dan membuat keadaan ini menjadi nyata. Saya sangat berterima kasih kepada orang tua, sanak saudara, dosen pembimbing dan penguji yang bersedia meluangkan waktunya untuk momen waktu itu serta uni Lina, kalau uni Lina kala itu tidak menampar saya dengan ucapannya, mungkin beda ceritanya.

momen yudisium - April 2015
Foto diambil teman saya
sumber : dokumentasi pribadi

Nah ini inti cerita saya kali ini (intronya agak panjang ya -_- ) cerita ini dibuat karena ada yang meminta. Semoga saya terhindar dari sifat ujub dan membanggakan diri. Benar adanya kalau ada yang bilang kalau paspor mampu mengubah mental kita menjadi luar negeri. Setelah membuat paspor tahun lalu untuk kegiatan yang dibiayai full oleh pemerintah Malaysia. Saya sudah mulai berani “apply” kegiatan luar negeri, mulai dari HPAIR (The Harvard project for Asian International relation) yang lulus  sampai tahap wawancara – tapi Alhamdulillah tahap berikutnya belum diizinkan lulus sampai dengan kegiatan ISIC (Indonesian Scholar International Convention) yang diadakan oleh PPI UK di London – UK. Info tentang ISIC ini saya dapatkan dari Facebook. Ya benar facebook. Saya tau info-info itu hanya dari facebook. Karena tujuan utama saya membuka facebook hanya untuk cari info semacam itu. Salah satu pertanyaan yang paling sering saya terima adalah “dari mana dapat info kegiatan yang saya ikuti?" Jawaban sederhananya facebook. Manfaatkan FB kamu guys untuk mencari informasi bukan untuk bergalau ria apalagi jadi kecanduan.


Sumber mula inspirasi
sumber : dokumentasi pribadi

Info kegiatan ini saya dapatkan persis ketika saya sibuk-sibuknya revisian skripsi. Saya mengamati tiap persyaratannya dan “klop” karena saat itu saya baru saja menyelesaikan penelitian saya a.k.a skripsi. Persyaratan awalnya adalah abstrak. Maka saya mengirimkan abstrak skripsi saya dalam bahasa Inggris tentunya kepada panitia. Percaya atau tidak. Pada saat mengirim abstrak saya tidak pernah terfikir akan lulus karena saya baca riwayat sebelumnya, yang mengirimkan abstrak bisa sampai 450-700 orang mahasiswa Indonesia dengan jenjang S1, S2 dan S3 dari seluruh dunia – dengan jumlah yang sebanyak itu ditambah dengan bersaing antar mahasiswa master dan doktoral membuat saya tidak berharap banyak pada kegiatan ini – pengumuman lulus seleksi abstrak saya terima persis ketika  ujian tertulis panum. 

               Seperti ujian pada umumnya, dimana konsentrasi kita terfokus pada ujian membuat saya lupa kalau tanggal itu adalah tanggal 15 Juni yang merupakan waktu pengumuman. Ketika itu HP saya sedang rusak sehingga saya harus membuat reminder melalui sticky note untuk kewarnet pasca ujian - 3 hari sebelumnya. Tapi berhubung soal panum mempengaruhi mood saya ketika itu (bagi yang ikut ujian panum ketika itu pasti sangat paham, bagaimana soal ujian panum menguras isi otak, perut dan mood) saya memutuskan balik ke wisma dan beristirahat. Sesampai diwisma saya bertemu dengan dua orang adik yang memberikan selamat “selamat ya kak abstrak yang di London lulus” saya hanya diam. Masih belum percaya. Adik kelas saya tau dari dosen pembimbing saya yang juga diemailkan pengumuman kelulusan abstraknya. Bahkan ketika itu saya tau lulusnya hanya dari ucapan adik kelas. Setelah beristirahat, baru besok harinya saya menemui dosen pembimbing dan lapor tentang kegiatan ini. 

Email kelulusan abstrak
sumber : dokumentasi pribadi
Apakah abstrak lulus berarti saya di Undang ke London – TIDAK. Masalah belum berakhir disini. Bagi 100 abstrak terpilih kita diminta untuk membuat full paper dan inilah seleksi akhirnya. Jujur saja saya merasa agak kesulitan didalam pembuatan full paper. Karena dibuat dengan format jurnal dan harus mengikuti format penulisan yang diberikan panitia. Dengan jumlah halaman minimal 8 halaman  serta tata cara penulisan lainnya. Saya harus putar otak bagaimana agar jurnal ini dapat menjadi representative dari skripsi saya sebelumnya. 

          Deadline yang diberikan panitia 1 bulan pasca pengumuman abstrak yang artinya persis beberapa hari sebelum lebaran. Saya bersyukur ketika itu ada kegiatan KKN jadi bagi saya yang telah menyelesaikan KKN dibulan februari mempunyai waktu lebih untuk menyelesaikan full paper ISIC ini (mungkin ini hikmah dari sekian banyak hikmah saya mengambil KKN duluan) – bimbingan dengan dosen pun sering dilakukan di bulan ramadhan. Setelah beberapa kali bimbingan akhirnya saya mantap untuk mengirimkan full paper tanggal 15 Juli 2015 (persis ditanggal deadline, tapi untung waktu inggris lebih lambat 6 jam, jadi sebenarnya waktu saya masih tersisa sampai tanggal  16 juli 2015 jam 05.59 WIB) – tentunya setelah mengirimkan full paper ini pandangan saya akan kegiatan ini mulai berubah. Ada keinginan untuk mempersiapkan diri apabila dinyatakan lulus nantinya. Mulai dari cek harga tiket, proses pembuatan visa, cara mencari sponsorship hingga menghitung berapa biaya yang harus saya keluarkan nantinya. Sedikit banyaknya saya mulai berharap dapat mengikuti kegiatan ini apalagi ditambah melihat video tahun-tahun sebelumnya membuat keinginan saya semakin kuat, mulailah saya mempraktekkan jurus andalan ”do’a”.

File surat yang menyatakan full paper saya diterima dan diminta presentasi
sumber : dokumentasi pribadi

Jarak pengiriman full paper dengan pengumumannya dijadwalkan 10 harian. 5 hari pertama saya masih merasa aman-aman saja menjalani aktivitas seperti biasa. Ketika itu masih suasana libur lebaran. 5 hari mau pengumuman, saya mulai deg-degan. Mulai rajin membuka email dan mulai mengaktifkan pemberitahuan email lewat hp. Siapa tau pemberitahuan dipercepat. Persis di tanggal yang telah dijadwalkan ada email masuk. Hati saya sudah mulai deg-degan serr. Saya bergegas membuka email – namun malangnya justru email pemberitahuan kalau panitia meminta maaf atas penundaan pengumuman full paper terpilih. Semenjak menerima email itu saya semakin rajin mengecek harga tiket terakhir melalui sky scanner, walaupun belum dinyatakan lulus tapi hati kecil saya mengatakan insya Allah saya lulus. Saya memang begitu dari dulu.  Mengikuti seleksi apapun kalau saya yakin insya Allah lulus, biasanya ada perasaan berbeda sebelumnya.
  
Hari demi hari berlalu. Sampailah ditanggal 10 agustus. Ketika itu saya baru saja buka puasa syawal terakhir saya. Selepas sholat magrib saya mengecek HP dan menemukan pemberitahuan email baru. Saya tidak seburu-buru dulu membukanya karena saya mengira itu adalah email promosi yang suka mampir ke email kita. DAN TARA... ternyata emailnya berisi pemberitahuan diterimanya full paper saya pada kegiatan itu dan diundang untuk mempresentasikannya. Ada yang iseng bertanya bagaimana perasaan saya saat itu. Sejujurnya perasaan saya saat itu datar saja dan saya  bersyukur Allah mengabulkan do’a saya dan saya masih bertanya akankah do’a saya selanjutnya dikabulkan ? saya sadar ke London itu tidaklah mudah dan murah. Maka do’a saya sebelumnya adalah jikalau berangkat kesana baik menurut Allah maka mudahkanlah jalan saya kesana. Benar saja setelah saya memberi tahu keberangkatan saya, kekhawatiran-kekhawatiran saya mulai teratasi satu persatu.  Alhamdulillah Allah mudahkan jalan menuju kesana, mulai dari menguatkan mental saya yang berangkat sendirian – tidur 2x periode di mushala dan memudahkan dari persoalan dana, Allah maha baik, maka lagi-lagi saya ingin mengutip ayat favorit banyak orang “Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kaudustakan?” setelah banyaknya  nikmat Allah yang diberikan kepada kita, masihkah kita lalai akan bersyukur terhadap nikmat Allah ? Penasaran dengan cerita saya berikutnya tentang proese pembuatan visa hingga perjalan pendek saya di London ? Tunggu cerita berikutnya ya 



Penasaran dengan cerita berikutnya ?
        sumber : dokumentasi pribadi

2 komentar:

  1. Sangat2 penasaran Corrina....
    Tanpa tersadar tulisan Corrina mengundang tetesan mutiara bening dari sudut mata ini....
    Dtunggu cerita selanjutnya Corrina.

    BalasHapus

 

Segores Tinta, Sekeping Hati, Mujahidah Sejati Blog by Corrina | Facebook