Selasa, 25 Maret 2014

Senyum luar biasa

Diposting oleh Corrina Heparti Novsyiami di 14.44
Reaksi: 

Padang, 26-03-2014 jam 03.00 AM Senyumlah.. aa.aa..senyumlah.aa.aa (Nasyid by raihan) 
20-23 maret 2014 pra-musyawarah nasional Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia (Pra-Munas PSMKGI) yang diselenggarakan oleh Kedokteran Gigi Unjani-Bandung. Pra-munas PSMKGI  kali ini seperti IOMS lainnya, rapat sampai tengah malam dan penyampaian argumen cerdas dan kontributif lainnya walaupun saya lebih banyak diam karena belum mengerti situasi dan kondisi sepenuhnya dan kalau sudah tengah malam pasti akan mengantuk dan bluk. Tertidur ditengah rapat. Saya bukan tipe ‘pegadang’ kalau tidak di’gambleng’ kopi atau tidur siang sebelumnya. Apalagi sebelum pramunas saya ujian blok, tanggal 20 siangnya masih ujian blok yang jatah tidur biasanya sangat kurang. Ditambah perjalanan dari soekarno hatta – cimahi lumayan membuat capek. Alhasil, tidak pagi, siang apalagi malam, mata saya selalu terkantuk.
Suasana Rapat dan penyampaian LPJ tengah kepengurusan (sumber : panitia)


            Mungkin seperti biasa juga. Kegiatan rapat IOMS diisi dengan rentetan acara lainnya. Dan fokus saya kali ini ialah bercerita salah satu rangkaian acara Pra-Munas yaitu : Penyuluhan kesehatan dan sikat gigi masal ke SLB yang ada di cimahi.

            Bagi saya pribadi melakukan kegiatan public health ke SLB merupakan pengalaman pertama, entah kalau yang lain. Sebelumnya dikampus ungu pernah diadakan penyuluhan ke panti asuhan dan sekolah umum. Hmhmm... SLB atau sekolah luar biasa. Siapa yang tidak kenal SLB ? yang mungkin barangkali didalam benak masyarakat merupakan sekolah dimana anaknya memiliki “kekurangan” yang tidak mampu diatasi oleh sekolah umum. Mereka tidak kurang namun istimewa. Di SLB tersebut semua jenis kebutuhan karena keistimewaan itu ada, mulai ada tuna rungu – sindrom down. Saya pikir orang dengan keluarga yang memiliki keistimewaan seperti ini pasti akan mengerti, bagaimana istimewanya anak-anak diatas.

Anak dengan kebutuhan penglihatan


            Kami datang dilokasi acara pukul 8.30 AM. Semua siswa dan orang tua sudah rame dan menunggu rombongan PSMKGI diaula sekolah. Kepala sekolah dan guru bergantian menyalami rombongan. Delegasi dan panitia pra-munas sigap mengambil tempat di pinggir aula menyaksikan pembukaan acara secara formal. Pada saat melihat profil sekolah, hawa-hawanya sudah terasa. Mata saya mulai panas dan berair. Yang dalam fikiran saya ialah adek saya yang paling kecil yang dahulunya didiagnosa ADHD namun semakin kesini saya merasa bukan hanya sekedar ADHD tapi juga autisme yang sangat butuh bimbingan sekolah luar biasa namun belum bisa karena keterbatasan tempat. Acara pembukaan secara formal dimulai. Diawali dengan sambutan sekretaris jenderal PSMKGI, kepala sekolah hingga ditutup do’a. Pada saat do’a mata saya sudah tidak bisa kompromi lagi. Saya pikir menangis lumayan bisa merilekskan mata. Lagi-lagi yang saya fikirkan adalah adek saya dirumah. Anak-anak istimewa dengan segudang kelebihan seperti itu harus ditempatkan di SLB seperti ini supaya dibina dengan baik.

Kelas Autisme

            Setelah pembukan usai. Kami delegasi dan panitia yang sebelumnya telah dibagi didalam post-post bergegas menuju post masing-masing. Suratan tangan yang bagus saya  mendapatkan kelas autisme. Kelas autisme diSLB ini diisi oleh 6 orang anak sejuta potensi. Setiap anak berbeda usia dan berbeda kebutuhan. Ada yang sangat pintar berbahasa inggris, ada yang pendiam, ada yang hiperaktif dan lain kasusnya. Awalnya kami ingin mengajarkan bagaimana cara menyikat gigi yang benar dengan demonstrasi namun karena lagi-lagi anak autisme yang tidak ingin diam dan fokus kekita. Akhirnya delegasi yang juga berada dipost autisme berpencar dan mengajarkan ke satu-satu anak. Menurut pengakuan guru disana,  anak-anak ini rata-rata sudah bisa diarahkan dengan baik. Saya pikir itu merupakan keberhasilan guru disana. Dari penjelasan gurunya disetiap SLB pasti mengajarkan sesuai tingkat kematangan psikologis, emosi dan kecerdasan peserta didik apalagi anak autisme yang berbeda buktinya anak 6 orang diajar 2 guru berbeda.



Acara sikat gigi bersama dengan delegasi (sumber : panitia)



            Setelah kami mengajarkan didalam kelas ini waktunya untuk outdoor. Bersama dengan anak dan delegasi dari post lain kami melakukan sikat gigi masal dilapangan sekolah. Satu hal yang saya pelajari senyum mereka tulus dan saling membantu. Ketika yang lumpuh didorong yang tuli- yang buta dituntun yang bisu. Yang bisu dikomunikasikan yang buta dan kerjasama lainnya. Hidup mereka bahagia dan tulus. Mereka tidak pernah merasa tersaingi, tidak iri, tidak dengki dan sifat jelek lainnya. Ah manusia kadang kita sudah diberi kecukupan masih saja merasa tersaingi, merasa iri dan dengki. Berusaha menjatuhkan yang lain, suudzon kepada yang lain, saling benci, saling merasa munafik. Ah manusia. Sikat gigi masal-pun usai. Kami semua membentuk konfigurasi untuk  pembuatan video hari kesehatan gigi dunia. Setelah itu siswa dikembalikan keaula untuk acara penutupan.


Celebration World Oral Health Day from Indonesia







           
               Acara penutupan penuh haru. Mulai dari penyampaian sekjend PSMKGI yang mengatakan bahwa kami delegasi semua belajar banyak hal dari siswa disana, disaat hari ini banyak manusia yang bunuh diri hanya karena urusan sepele, anak-anak disana mengajarkan bagaimana untuk bersyukur dan menikmati hidup. Penyampaian dari kepala sekolah juga tidak kalah menggigit bahwa ternyata senyum luar biasa itu ialah hanyalah senyum tulus yang tercipta dari  hati-hati yang tulus dan saling mengasihani. Saya memperhatikan aula dan memperhatikan siswa serta orang tua. Orang tua dengan anak berkebutuhan khusus adalah orang tua luar biasa. Karena keluarbiasaan mereka dititipkan anak luar biasa dan salah satunya ialah orang tua saya. Bagaimana ‘luarbiasanya’ mengurus anak yang ternyata harus dipahami lebih. Anak yang mungkin menyuarakan “ingin dimengerti disaat yang lain tidak bisa memahami”. Acara ditutup dengan 2 buah lagu yang dibawakan oleh siswa yang buta dan sebuah tarian dari siswa sindrom down. Saya perhatikan sekitar lagi. Terpancar harapan yang tulus dari guru dan orang tua disana akan masa depan anak luar biasa ini. 

‘MEREKA BUKAN KURANG TAPI LUAR BIASA’ DAN MEREKA TELAH MENGAJARKAN KAMI SENYUM LUAR BIASA’






0 komentar:

Posting Komentar

 

Segores Tinta, Sekeping Hati, Mujahidah Sejati Blog by Corrina | Facebook