Jumat, 03 Oktober 2014

Memori terminal bernama bandara

Diposting oleh Corrina Heparti Novsyiami di 06.09

Diantara banyak  ‘terminal’ kendaraan, yang paling saya senangi ialah bandara. Mungkin karena rasa penasaran saya yang sangat kepada bandara sedari kecil dan baru terealisasikan ketika besar.  Bandara selalu memberikan cerita uniknya tersendiri. Mulai dari perkenalan saya dengan bandara sampai pengalaman saya harus menginap dibandara.


Fokus cerita saya kali ini ialah tentang urusan inap-menginap dibandara. Mungkin bagi sebahagian teman-teman lain sudah sering mengalami hal ini, tidur dan terlelap dibandara. Namun bagi saya ini adalah pengalaman pertama.

Baiklah cerita ini dimulai tepat pada tanggal 27 Agustus 2014 pukul 22.00. Selepas mendaratnya pesawat Malaysia Airlines dengan penerbangan Kuala Lumpur – Jakarta. Kami para delegasi Nusantara Leadership Camp saling peluk haru dan mengucapkan kata-kata perpisahan kepada semua delegasi terbaik  yang telah membersamai di beberapa hari dengan kenangan yang luar biasa (penasaran dengan cerita ILC- NLC ditunggu ya -  aduh ini cerita sudah 1 bulan masih belum rampung). Kami saling berpamitan, meminta maaf dan saling memanjatkan harapan agar dapat dipertemukan didalam forum luar biasa berikutnya.

Satu persatu diantara kami pergi menuju peraduan masing-masing, ada yang menunggu damri, ada yang dijemput dan tak sedikit yang menggunakan taksi. Awalnya pada saat itu saya ingin ke Tangerang, ketempat saudara yang sudah lama tidak dilihat namun karena beliau baru saja pindah rumah, niat itu dibatalkan. Akhirnya  saya menuju terminal penerbangan domestik 1B dari terminal kedatangan International menggunakan taksi karena bus yang biasa mengangkut penumpang antar terminal sudah jarang datang karena sudah malam .

Suasana Malam Soekarno Hatta : Foto diambil dari kompasiana

Sesampainya diterminal 1B hawa kehidupan di Soe-ta masih terasa. Walaupun banyak yang tergeletak tak berdaya (tidur) di lantai-lantai sepanjang pintu keberangkatan. Ternyata pintu keberangkatan belum dibuka dan baru akan dibuka pada puku 3.30 pagi. Pada saat itu waktu menunjukan pukul 12-an, saya bergegas mencari tempat penjualan tiket maskapai penerbangan mahasiswa (itu lho maskapai penerbangan yang harganya cocok dikantong mahasiswa, hee- pasti sudah tau itu apa) dan WHAT? TUTUP. Saya tidak tau sama sekali kalau tempat penjualan tiketnya akan tutup. Disana saya sendiri dengan bawaan yang satu troli full, tiket juga belum bisa dibeli. Sebelum berangkat saya memang belum sempat beli tiket balik kepadang karena waktu kepulangan yang pada saat itu belum pasti. Jadi saya memang berniat beli tiket onthespot.

Salah satu spot dibandara. Foto diambil dari kompasiana

Saya berkeliling mencari tempat duduk yang bisa dihuni. Semuanya penuh. Akhirnya saya berlabuh ditoko makanan yang menyajikan popmie rebus. “apapun yang terjadi popmie tetap idaman” haa, sembari mencoba membeli tiket online dari HP namun pada saat transfer uang, ATM saya ditolak karena tidak bisa melakukan transfer untuk membayar tiket  dari ATM muamalat di mesin ATM lain. Lagi-lagi saya harus menganggu orang tua dan abang saya dimalam hari. Abang saya dengan secepat kilat ke ATM untuk membayarkan tiket yang juga sudah dibookingkannya terlebih dahulu dan tentu saja orangtua saya pada saat itu tidak kalah cemasnya, “anak gadis satu-satunya (penting bilang satu-satunya :p) – sendirian – malamhari – di Bandara”.  Setelah nomor booking didapat saya berkeliling jalan-jalan dengan menggandeng troli dan duduk dikerumunan ibu-ibu, mungkin karena memang penerbangan pagi itu (pukul 6.00 pagi) ke Padang dan palembang maka ibu-ibu yang berkerumun itu dapat ditebak dari logatnya. AHA – PADANG eui. Setidaknya rasa khawatir saya  menghilang – MASIH URANG AWAK JUO KIRONYO.


Sembari melihat sekeliling, dengan batrai HP yang mulai menipis dan waktu masih menunjukan pukul 2 pagi, saya kembali menggandeng troli, berjalan-jalan di sepanjang pintu keberangkatan soekarno-hatta. Melihat  sisi lain soekarno-hatta yang katanya perwajahan transportasi udara di Indonesia. Pembangunan infrastruktur disana-sini, kondisi malam yang berbeda memang mengajarkan kita bahwa masih banyak sisi lain Indonesia yang perlu uluran anak muda untuk pembenahan dan perbaikan kedepan  - maka idealnya anak muda harus bekerjakeras membangun bangsanya – jangan lebay apalagi alay.

Pilihan terakhir saya  dari keliling-keliling itu  ialah ruangan ibu-anak yang tersedia disetiap bandara. Dan seperti dugaan saya ruangan ibu –anak selalu memiliki fasilitas lengkap yang disana kita bisa tidur barang sejam atau dua jam. Nah bagi teman-teman perempuan yang akan menginap dibandara selain mushala / mesjid sebagai tempat persinggahan juga bisa memanfaatkan fasilitas ruangan ibu – anak. Setelah sedikit meluruskan  punggung saya kembali memperhatikan jam. Sudah jam 4.00. Dengan modal cuci muka saya kembali ke pintu keberangkatan. Disana sudah antri orang-orang yang punya kepentingan sama melanjutkan kehidupan ditujuan masing-masing.


Kondisi langit ketika mentari pagi menyingsing : Foto dokumentasi pribadi :D


Kenapa pada saat itu saya mati-matian dengan pesawat pagi ? – sampai harus menginap dibandara ialah karena ingin tutorial pagi harinya - jam 8.00, karena sebelumnya pada hari selasanya saya sudah izin tutorial karena masih di Malaysia. Nah sebagai anak yang baik dan patuh pada peraturan yang hanya boleh izin tutorial satu kali saja (ceile) saya berniat harus sampai padang sepagi harinya. Walaupun pada kenyataannya saya tidak jadi ikut tutorial karena sampai Padang jam 8.00 (berangkatnya lebih molor dari jadwal, yang estimasi kedatangannya bisa jam 7.20) serta bagasinya lama keluar dan jarak bandara yang jauh ke kosan saya membuat saya pagi itu membatalkan diri ikut karena tutorial, karena kalaupun datang pasti tutorial juga sudah selesai dan sebagai bonusnya saya harus mengerjakan tugas tutorial lengkap tapi walapun tidak jadi tutorial pagi itu, saya bersyukur ada pengalaman menarik yang tidak bisa dilupakan. 

0 komentar:

Posting Komentar

 

Segores Tinta, Sekeping Hati, Mujahidah Sejati Blog by Corrina | Facebook