Senin, 15 Desember 2014

Apresiasi ? A lo tu ?

Diposting oleh Corrina Heparti Novsyiami di 12.21
Reaksi: 

“A : Kita parkir disana yuk ?
B : Ngak ah, di motor ada stiker fakultas, ngak enak, ntar jelek lagi nama fakultas dan universitas kitaA : segitunya B : soalnya kalau bukan mahasiswanya yang menjaga nama baik kampusnya, siapa lagi ?
Ilustrasi diatas hanyalah perumpamaan bagaimana peran penting mahasiswa selaku oknum terbanyak dikampusnya untuk menjaga nama kampus masing-masing. Tentunya hal diatas baru akan muncul ketika kita mulai mencintai almamater kita masing-masing.  Agar cinta tidak bertepuk sebelah tangan, tentunya kampus harus bisa jelimet juga melihat kebutuhan mahasiswa termasuk masalah apresiasi kepada mahasiswa. Saya sangat ingat sebuah percakapan disalah satu jejaring sosial. Teman saya yang berasal dari suatu Universitas harus "ngamuk" dulu agar kampusnya mengapresiasi setiap prestasi yang diraih oleh mahasiswanya dan amukannya berhasil membuat Universitas tersebut lebih mengapresiasi mahasiswanya.  
Masalah apresiasi terhadap mahasiswa ini tidak hanya sekedar keren-kerenan semata, idealnya setiap kampus mesti seperti itu, sekecil apapun prestasinya, harus diapresiasi yang bisa menjadi motivasi untuk orang lain dan sipembuat prestasi untuk lebih bersemangat melebarkan sayap prestasinya. (Status FB saya beberapa saat yang lalu tentang apresiasi)
Sumber : pahang.uitm.edu.my



Huft. Lagi-lagi masalah apresiasi. Sebagai manusia biasa. Kebanyakan kita inginnya selalu diapresiasi – apapun tindakannya. Wajar saja – tidak ada yang ingin kerja nya sia-sia apalagi tidak dianggap (kadang sakitnya itu memang disini ya).  Topik apresiasi ini muncul setelah ‘maota lamak’ tentang Indonesia dengan teman rumah penuh ukhuwah a.k.a wisma. Indonesia ? dengan segala kelebihan sumber daya alam – kelebihan potensi sumber daya manusia. Tentu saja juga dengan segala kelebihan permasalahan yang “unik, buat pusing dan butuh penyelesaian segera !”.
 Indonesia tanah air beta – tempat kita semua mungkin dilahirkan – dibesarkan hingga meninggal dunia. Air – tanah – api – udara  (bukan avatar) sudah menyatu dan menjadi jiwa sendiri bagi kita. Ritme kehidupan yang bergulir – alur cerita yang unik membuat kita bagaimanapun akan tetap ingin Indonesia lebih baik.  

Sumber : agnygallus.blogspot.com

Kami awalnya berbicara masalah kesehatan. Mengenai mahalnya pembiayaan perawatan gigi dan mulut. Mengenai tidak masuk asuransinya kebanyakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut. Gigi dan mulut dianggap mahal dan bersifat kosmetik tapi lucunya setiap survey kesehatan 3 tahunan tetap saja gigi dan mulut masuk top 5 penyakit terbanyak dengan angka kesakitan >50% penduduk Indonesia. LUCU.  Lucu saja tiap 3 tahun survey - saya perhatikan hasil Survey  Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) yang dikeluarkan pemerintah untuk penyakit gigi dan mulut tidak ada perubahan yang signifikan ya masih top 5 atau kadang-kadang turun peringkat ke top 10.  

Kalau kita ingin berkisah salah satu penyebab tidak diasuransikannya kesehatan gigi dan mulut adalah mahalnya tarif yang ditetapkan dan harus dibayar oleh penyedia jasa asuransi. Baiklah untuk masalah mahal saya memang angkat tangan. Bahan dan alat di kedokteran gigi tidak ada yang murah, bahkan wax (lilin) yang terlihat sepele harganya 6.000 – semenjak kenaikan BBM sudah jadi 8.000 – kalau kita konversikan 8 ribu bisa dapat 1 potong sambal  dirumah makan padang idaman  anda.  Saya sempat mengeluarkan pernyataan. Bagaimana kalau pemerintah / penyedia asuransi atau apalah namanya bukan mensubsidi  per satu pelayanan tapi mensubsidi alat dan bahan yang dipakai dokter gigi. Walaupun konsep asuransi pada dasarnya memakai sistem kapita yang dokternya dibayar berdasarkan jumlah kapita penduduk yang menjadi tanggungan “sakit – tidak sakit”. Namun tetap saja konsep seperti ini ‘menurut saya’ tidak merubah harga alat dan bahan yang pada dasarnya mahal dan tentu saja tarif yang ditetapkan MAHAL. Salah satu yang menjadi penyebab mahalnya alat dan bahan di KG karena selain barangnya semua import – made in germany – made in swiss – made in USA – made in UK – made in Indonesia kapan??? juga pajak yang ditetapkan ke alat-alat ini lebih tinggi dari barang lain. Sudahlah harga dari asalnya mahal ditambah pajak yang tidak murah maka sukseslah membuat nilai barang tersebut menjadi MAHAL.

sumber : warungdental.com

Kalau saja dapat berandai-andai. Pemerintah mau mensubsidi lebih alat dan bahan yang dipakai – (1) mulai dari penyediaan alat dan bahan seperti pembelian dalam jumlah banyak atas nama negara Indonesia tentu akan berbeda harganya dari pembelian jumlah tertentu atas nama distributor alat Kedokteran Gigi  – (2) pengaturan pajak, karena barang-barang tersebut toh memang dibutuhkan rakyat (buktinya hasil survey kesehatan- masyarakat masih mengeluhkan hal yang sama bertahun-tahun lamanya) maka pajak yang ditetapkan idealnya tidak begitu tinggi (tapi entahlah saya tidak tau persis prosedur penetapan angka pajak) dan (3) pengaturan nilai jual di Indonesia. Maka bukan tidak mungkin harga pelayanan kesehatan gigi dan mulut bisa ‘bersahabat’ dikantong masyarakat menengah – kebawah.   Ya tapi kalau pola fikirnya seperti ini : tidak bisa seperti itu - akan banyak pihak yang berkepentingan yang akan rugi disana – tidak bisa seperti itu – kalau pola pikir kita seperti itu – ya sudahlah – tu ka baa lai ? tu ka dipangaan lai ?

            Setelah saya mengutarakan hal demikian. Teman saya bercerita bahwa dahulunya sudah ada ide-ide pembuatan alat kedokteran gigi yang ‘made in Indonesia’. Sudah ada konsep lengkap – ketika akan direalisasikan terkendala dana dan kebiasaan kita kan CUMA bisa ‘apresiasi’ “wah hebat ya” “selamat ya, kamu memang luar biasa” tanpa adanya feedback positif. Dengan berat hati ide dan konsep tersebut dijual ke “germany” dan siap-siap saja  beberapa tahun kedepan produk tersebut masuk ke Indonesia dengan harga jual yang lebih mahal. Kalau saya jadi orang tersebut maka saya juga akan menjual ide tersebut ke negara luar yang jelas-jelas mempunyai feedback positif. Mau mewujudkan ide yang kita punya dan memberikan keuntungan apakah itu berupa materil atau non materil. Itu manusiawi. Nah sebenarnya Indonesia bukan masalah kekurangan SDM untuk memajukan negara ini tapi tidak adanya apresiasI. Bagi saya apresiasi bukan tentang “wah selamat ya” “kamu memang membanggakan Indonesia” tapi adanya feedback yang membuat orang tersebut terus dapat bertahan dan mengembangkan potensi yang dimiliki apakah dalam bentuk dana atau penyediaan akses dalam melakukan kegiatan.

Sumber : antara.com

            Saya ingat dengan pernyataan seorang doktor lulusan luar negeri yang sempat harus beradaptasi lagi dengan kebiasaan di Indonesia karena sudah ‘keasyikan’ diluar negeri. Diluar negeri riset-riset dihargai dan ada feedback setelah ini mau dikemanakan. Mau dibuat model apa, dipasarkan atau dipatenkan atau apalah. Di Indonesia –riset ada, bantuan untuk riset ada tapi setelah ini mau dikemanakan tidak tau. Bagi periset yang ‘cerdas’ mungkin akan menjualnya keluar.  Bagi yang tidak ya palingan hasil penelitian paling keras tembus jurnal internasional sesuai dengan bidang ilmu masing-masing. Setelah itu ?  bagi yang ingin melanjutkan –lanjut. Yang tidak ? say goodbye dan jadi cerita ke anak cucu saja bahwa dahulu saya pernah melakukan ini – itu dan ini – itu.

sumber : mansyur7.wordpress.com

            Menurut saya kata-kata doktor diatas tepat sekali. Siapa disini yang suka  mengkonsumsi makanan nutrisi yang katanya membernya puluhan negara ? harganya tidak murah bukan ? itu adalah hasil riset yang dikembangkan dengan baik – penjualan tinggi dengan rating yang juga tinggi maka secara otomatis juga  ada pemasukan bagi negara penghasil. Saya tidak akan sok-sok an disini berbicara mengenai hal diatas. Toh saya belum ada penghasilkan apa-apa. Hanya butiran debu bagi orang luar biasa  yang tersebar diseluruh penjuru dunia.  Namun disini hanya ingin menyuarakan - kita semua ingin Indonesia maju namun apresiasi terhadap hal-hal semacam itu masih sangat-sangat-sangat-sangat KURANG. Apresiasi bukan hanya masalah “wah selamat ya” tapi apa feedback kedepan. Mari kita mulai dari hal yang paling kecil seperti organisasi kampus misalnya kemudian beranjak ke tingkat universitas, serta beranjak membicarakan bangsa dan negara ini.  
                                                         Padang : 16-12-2014

                                                        pukul : 3.00 AM 

0 komentar:

Posting Komentar

 

Segores Tinta, Sekeping Hati, Mujahidah Sejati Blog by Corrina | Facebook