Jumat, 08 Mei 2015

Ketika tren..

Diposting oleh Corrina Heparti Novsyiami di 06.03
Reaksi: 
Sembari membersihakan debu dan jaring laba-laba blog yang sudah lama tidak diurus.
“ndeh lah bakurang seh peminat e yang, lah kurang seh urang pai maasah”

Pasti yang mengerti bahasa minang dan mengikuti tren kekinian paham kata-kata diatas. Saya sudah lama ingin membuat tulisan tentang ini. Terutama ketika saya melihat sepanjang jalan 4-5 pengasah batu akik yang berjarak tak sampai 3 meter satu sama lain asyik mengasah batu akik. Kadang sesekali berhenti- menarik nafas dari masker yang sudah dipakai berhari-hari. Sementara sipunya batu dengan setia menanti batu akik selesai diasah – tidak peduli debunya memiliki partikel-partikel tajam yang siap merusak tubuh. 

Sumber : koleksibatu-akik.blogspot.com


Saya tidak ingin membahas mengenai batu akik, tidak ada ilmu saya disana. Membedakan batu akik yang harganya 25 ribu dengan 25 juta saya tidak bisa. Yang katanya disenteri untuk megecek keasliannya, jangan tanya saya, saya tidak punya ilmu disana. Disini saya ingin membahas bagaimana sebuah tren dapat menjadi sangat meledak di Indonesia. Sebelum batu akik tren, tentu sudah banyak tren-tren lainnya di Indonesia. Seperti Fashion hijaber, K-Pop, Sulam alis, gadget, atau yang lebih lawas celana pensil atau kuliah di jurusan tertentu yang katanya keren juga bisa jadi tren yang berhembus di lingkungan masyarakat. Semuanya mempunyai periode sendiri, mendadak muncul dan mendadak juga hilangnya.

sumber : www.sugarspunmarketing.com

Saya pernah berdiskusi dengan teman yang pernah mengujungi negara lain dan kami saling bertukar cerita apa saja  pengalaman yang pernah kami miliki. Dia mengutarakan bagaimana Indonesia kita tercinta ini menjadi sasaran empuk “panggaleh” dari mana saja.  Ada beberapa faktor yang melatar belakanginya : saya hanya bisa menguraikannya beberapa, mungkin dikesempatan lain akan diuraikan lebih banyak.

1.      Orang Indonesia terlalu asyik dengan media dan menjadi follower media. Media hari ini adalah alat propaganda paling keren yang membuat masyarakat bisa jadi menit ini menyukai A dan semenit kemudian beralih hati menyukai B. Banyak orang yang kadang lupa bahwa apa yang diberitakan media tidak selamanya benar. Banyak yang memanfaatkan media untuk memanipulasi keadaan. Kita bisa sangat terlihat baik dimedia hanya karena banyak yang memuji dan bisa terlihat sangat buruk ketika cemoohan datang menghujam. Zaman dengan akses info bebas tanpa batas membuat kita bisa melabeli apa saja- termasuk melabeli sesuatu yang saat itu sedang banyak diperbincangkan menjadi tren. Akses info membuat orang saling tau apa yang sedang terjadi dan... kita masuk yang ke dua

sumber : www.banyakin.com

2.      Orang Indonesia sangat tidak ingin kalah dalam hal  tren kekinian.
 Saya sebenarnya juga tidak tau dari mana sejarah masing-masing tren itu bermula. Tapi yang jelas suatu tren pasti dimulai dari perbincangan sekelompok orang kemudian ditiru sekelompok orang begitu seterusnya sampai terbentuk pemikiran bahwa apa yang sedang terjadi keren dan sah-sah saja serta harus diikuti supaya kita masuk kedalam lingkaran “anak kekinian”. Saya ambil contoh batu akik, dahulunya mohon maaf batu akik identik dengan orang yang sudah berusia lanjut atau paranormal yang memberikan kesan kuno dan menakutkan serta  mempunyai “isi” (aka Jin). Tapi begitu ada pemicunya batu akik lansung menjelma menjadi batu keren, kekinian, sughoi, pokokeoke. Tua- muda, perempuan apalagi laki-laki, semuanya saling berlomba-lomba, batu siapa yang paling bagus. Saking ini menjadi tren yang melegenda, beberapa kali Fair-fair yang terjadi dikota padang selalu diisi batu akik fair dan omset yang diraih tidak sedikit, bocoran yang saya dapat hingga miliyaran

Sumber : startupbisnis.com

Saya pernah melihat sendiri kondisi tidak ingin kalahnya kita dalam urusan tren, Jadi salah satu tren kedepan tampaknya adalah parkir motor atau mobil dimesjid-mesjid dan yang jadi tukang parkir bukan orang dewasa tapi anak SMP dan SMA. Kalau ikut sholat sih ngak apa-apa tapi kalau Cuma mau ngambil untungnya aja disitu kadang saya merasa sedih. Balik ke batu akik, saat itu saya sholat disuatu mesjid yang cukup ramai. Dipastikan penghasilan anak-anak disana lumayan lah – bisa mencapai 50 ribu perhari. Saya jamaah yang terakhir keluar mesjid pada sholat magrib kala itu. Setelah saya memberikan “uang parkir” 2 anak yang berjaga bergegas berlari ke arah samping mesjid, saya ikuti mereka dan tara.. disana sudah berdiri stand asahan batu akik. Saya hanya tertawa, jadi uang yang mereka kumpulkan itu digunakan untuk ini. Itu hanyalah salah satu contoh sederhana bagaimana kita tidak ingin kalah dalam hal tren dengan orang lain (bisa jadi saya juga begitu). Selalu ingin punya apa yang sedang menjadi tren kekinian. Bahkan rela mengorbankan/ melakukan apapun demi tren tersebut.

Saya merasa hidup kita di Indonesia, hanyalah melewati hari-hari dari satu tren ke tren lainnya. Mengikuti arus yang ada, hari ini jenis A yang ngetren semuanya berbondong-bondong ke sana kemudian berganti lagi jenis B yang keren, semuanya berlari menuju siapa yang paling ketje dan ‘gahol’. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sebuah tren, saya sering mengambil keuntungan dari tren yang terjadi. Ataupun negara lain juga punya tren tersendiri, tidak ada yang salah sih dengan tren, manusiawi juga lah ya. Yang salah hanyalah memaksakan diri agar bisa mengikuti suatu tren padahal kita tidak mampu untuk mengikuti hal tersebut. Serta tidak memilih-milih mana tren yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan (diperbolehkan disini dari segi kebiasaan dan agama, contohnya seperti sulam alis itu dilarang bro diagama). Jadi diri sendiri itu lebih baik. Tidak ada yang salah dengan tren apalagi trennya menuju kebaikan atau tren berprestasi, wah itu mah kece banget.

Sumber : lifestyle.kompasiana.com

            Oh iya saya mengambil contoh diatas batu akik, tidak ada maksud apa-apa ya – jangan marah bagi penggemar batu akik. Cuma itu yang bersifat kekinian untuk saat ini, sampai kenang-kenang Konferensi Asia Afrika kemarin batu akik loh bro, bukti betapa mendunianya batu akik ini.


1 komentar:

 

Segores Tinta, Sekeping Hati, Mujahidah Sejati Blog by Corrina | Facebook