Sabtu, 02 November 2013

Behind The Scene

Diposting oleh Corrina Heparti Novsyiami di 23.04
Reaksi: 
Kali ini kita benar-benar tidak punya pilihan. Apa seh hukuman yang paling ditakuti oleh mahasiswa kedokteran gigi ? nilai digagalkan atau Ulang BLOK ? waduh memperpanjang masa studi dan pengurusan diakhir 21 blok nanti (diakhir tahun 4) ribetnya sungguh terlalu. Kali ini kita harus ikut atau BLOK 12 kemarin digagalkan, WOW, kaget donk ya, masa ada hubungannya acara seperti ini dengan akademik. Demo ? yaudah tapi itulah kenyataan dan semua pihak membenarkan harus ikut. OK. Agar ini bersifat syar’I kami coba bertanya ke ustad yang mengisi tasqif di FK waktu itu, si ustad memperbolehkan dengan alas an : 1. Ini tari masal bro, diikuti 1.300 katanya, siustad merasa kita ngak akan terlihat juga, 2. tarinya tari indang, itu lho tari yang Cuma gerak-gerakin tangan, ngak nyampe gerakin yang lain J, 3. Asalkan nanti tidak tabaruj dan tidak terlalu atraktif.

                Latihan demi latihan diikuti, awalnya kata ibuknya ya, yang latihan Cuma cewek aja 1300 orang, tapi karena kebanyakan mahasiswa Unand ngak ikut (kemungkinan di fakultas masing-masing
tidak ada ultimatum wajib seperti fakultas kami) jadi cowok pun harus banyak yang ikut dan ditambah adek-adek SMA. Wah disinilah riuh-riuh tak jelas itu mulai muncul, suasana latihan tidak sekondusif dulu ketika yang latihan Cuma cewek-cewek aja. Tapi untungnya dikau akhwat-akhwat selalu jadi penyemangat dan pengingat dikala lupa dan khilaf (so sweet). Awalnya saya pikir saya akhwat yang bandel, pakai acara nari-nari segala, tapi ini ultimatum bro, dari pada ane ulang blok  (sedikit diceritakan, setiap ujian BLOK biasanya Mbak yu selalu bilang, A*K jangan remed ya, semangat belajarnya, belajar rajin, A*K harus jadi contoh dalam bidang apapun, jangan menimbulkan pencitraan yang diburuk dimata masyarakat  *a*m*p*s, remed aja ngak boleh apalagi ulang blok). Kita kembali ke topic awal, Alhamdulilah akhwat banyak yang ikut (entah harus bilang Alhamdulillah atau astagfirullah), kebanyakan   para akhwat ikut, terkait ultimatum fakultas atau beasiswa, katanya semua yang bidik misi wajib ikut. Kau ingat akhwat, kau yang terus mengingatkan abang dan kakak pelatihnya tentang jam sholat, tentang pemisahan barisan, waw akhwat-akhwat dikau sungguh hebat :D

                Ternyata riuh-riuh aneh tidak hanya pada latihan saja tapi juga pada saat tampil. Kau tau kawan kostum yang harus kami pakai itu, baju tari, celana randai (celana dengan ukuran gede’) dan ini ni jelbab mesti masuk kedalam baju plus make up.  Kita bahas dulu satu-satu. Soal make up, awalnya kami akhwat tidak ingin dimake-up, tapi selalu begitu, atas nama ultimatum, kami harus memakai bedak dan lipstick, Alhamdulillah ya saya ada riwayat Dermatitis Kontak Iritan, ternyata bedak yang awalnya dipakai terasa panas dikulit, lipstiknya juga panas,  yuhu ujung-ujungnya dihapus lagi,ALHAMDULILLAH :D. Yang kedua tentang baju, Alhamdulillah bajunya longgar palingan ditambah manset aja. Yang ketiga mengenai celana randai, iya sih kakak celana gede’ tapi saya tidak pernah PD memakainya, ujung-ujungnya pada saat tampil saya memakai RC (rok-celana) itu lho celana yang luarnya kayak rokJ, banyak yang nanya “corri ndak baa tu pakai iko?” “corri pakai rok”, jawaban simple dan sok cool keluar “ya palingan ngak kelihatan kan, sama-sama hitam, nanti kalau ibuk pelatihnya merasa beda, palingan kena marah dan diceramahi, ngak nyampe keluar dari unand kan?”  yang lain speechless, namun memang hanya saya satu-satunya yang berbeda kala itu (baru sadar tapi who cares?). Selanjutnya tentang jelbab yang mesti masuk kedalam, nah wajib ya (katanya atas nama estetika, biar rapi), sekali lagi saya tidak nyaman juga, masalah ini kami para akhwat setuju untuk memberikannya jarum disisi kiri dan kanan agar tidak melambai-lambai jilbabnya, “yakin corri keluar jilbabnya?” dengan sook cool lagi menjawab “ ya palingan nanti kena marah, ngak nyampe ulang blok kan?” 

Ya itulah sepengal kisah kawan, mungkin ada beberapa kesimpulan yang dapat kita tar
1.  Dimanapun dan kapanpun atas nama terpaksa atau kerelaan hati (KKN contohnya), carilah orang yang menguatkan kita dimanapun kita berada, cari komunitas ‘ternyaman’ itu, seep, bukan untuk ekslusip-ekslusipan tapi kita tidak tau titik terlemah diri kita, apakah akan rapuh begitu saja atau bertahan
2. Apapun kondisinya usahakan tetap syar’I, palingan nanti ujung-ujungnya kena marah, tapi kemarin ALHAMDULILLAH tidak ada yang marah (Allah sungguh sayang :D )

      3 Semoga bermanfaat dan fastabiqul khairat kawan :D

0 komentar:

Posting Komentar

 

Segores Tinta, Sekeping Hati, Mujahidah Sejati Blog by Corrina | Facebook