Sabtu, 02 November 2013

Sedikit Obat Hati

Diposting oleh Corrina Heparti Novsyiami di 22.55
Reaksi: 

Pengantar :

Kadang hidup memang penuh dengan perjuangan, terkadang kita tak pernah menyadari bahwa setiap apa yang kita lakukan adalah ujian… nah terkadang pula didalam menghadapi ujian kadang hati tak sanggup lagi menahanya..
Ketika masa-masa seperti ini biasanya kita cenderung merasa orang yang paling tidak beruntung dan berujung pada tidak syukurnya hati terhadap nikmat2 Allah azza wajjala lainnya.. hanya karena setetes masalah kita mampun melupakan luasnya rahmat Allah..
Apakah yang harus kita lakukan seandainya kita mendapat cobaan dari Allah..
Nah hal pertama yang harus dibahas adalah.. apakah cobaan itu ?

^Setiap orang yang beriman pasti akan diberikan ujian oleh Allah subhanahu wata’ala. Ujian tersebut beragam bentuknya, sesuai kondisi dan kadar keimanan seseorang. Ujian bisa berupa kesenangan dan bisa pula berupa kesusahan. Dan salah satu dari bentuk ujian tersebut adalah tertimpanya seseorang dengan suatu penyakit yang menggerogoti dirinya.
Sebagaimana yang Allah subhanahu wata’ala sebutkan dalam surat Al-‘Ankabut ayat 1sampai 3, bahwa hikmah diberikannya ujian kepada kaum mukminin adalah untuk mengetahui[1] siapa yang jujur dan siapa yang dusta dalam pengakuan iman mereka tersebut.
Demikian juga ketika sakit, seseorang akan teruji tingkat kejujuran iman dan aqidah dia. Sangat disayangkan, ternyata di sana masih banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran syari’at yang dilakukan oleh orang yang sedang tertimpa penyakit.
Di antara mereka ada yang tidak menerima bahkan menolak takdir Allah yang sedang dia rasakan tersebut. Bahkan ada yang mengatakan dan mengklaim bahwa Allah tidak adil kepada dirinya, Allah telah berbuat zhalim kepadanya, dan sebagainya, na’udzubillah min dzalik. Ada pula yang tidak sabar dan putus asa dengan keadaannya tersebut sehingga dia sangat berharap ajal segera menjemputnya. Dan bahkan ada pula yang nekad melakukan upaya bunuh diri dengan harapan penderitaannya segera berakhir. Ini semua menunjukkan lemahnya iman dan kurang jujurnya dia dalam ikrar keimanannya tersebut.
Lalu bagaimana bimbingan syari’at yang mulia dan sempurna ini dalam menyikapi permasalahan-permasalahan seperti itu?
Solusi apa yang seharusnya dilakukan oleh setiap hamba yang mengaku beriman kepada Allah ‘azza wajalla, Rasul-Nya dan hari akhir jika tertimpa suatu penyakit agar iman dan aqidah ini senantiasa terjaga?
Maka kali ini insya Allah akan kami tengahkan kepada anda, bagaimana syari’at membimbing anda tentang sikap yang seharusnya dilakukan oleh seseorang yang sedang mengalami sakit agar dia dikatakan sebagai seorang yang jujur dalam keimanan dan aqidahnya.
Di antara sikap tersebut adalah[2]:
1.     Hendaknya dia merasa ridha dengan takdir dan ketentuan Allah subhanahu wata’ala tersebut, bersabar dengannya dan berbaik sangka kepada Allah subhanahu wata’ala dengan apa yang sedang dia rasakan. Karena segala yang dia terima adalah merupakan sesuatu terbaik yang Allah subhanahu wata’ala berikan padanya. Ini merupakan sikap seorang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan keimanan yang benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Sungguh sangat menakjubkan urusan seorang mukmin, karena segala urusannya adalah berupa kebaikan. Dan tidaklah didapatkan keadaan yang seperti ini kecuali pada diri seorang mukmin saja. Ketika dia mendapatkan kebahagiaan, dia segera bersyukur. Maka itu menjadi kebaikan baginya. Dan ketika dia mendapatkan kesusahan dia bersabar. Maka itu menjadi kebaikan baginya.” (HR. Muslim dari shahabat Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu)
Beliau juga bersabda:
“Janganlah salah seorang diantara kalian meninggal kecuali dalam keadaan dia berbaik sangka kepada Allah.” (HR. Muslim dari shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhuma)
2.     Hendaknya dia memiliki sikap raja’ (berharap atas rahmat Allah subhanahu wata’ala) dan rasa khauf (takut dan cemas dari adzab Allah subhanahu wata’ala)
“Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendatangi seorang pemuda yang sedang sakit. kemudian beliau bertanya kepadanya: “Bagaimana keadaanmu?” Pemuda itu menjawab: “Demi Allah ya Rasulullah, sungguh saya sangat mengharapkan rahmat Allah dan saya takut akan siksa Allah dikarenakan dosa-dosa saya.” Maka kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah dua sifat tersebut ada pada seorang hamba yang dalam keadaan seperti ini, kecuali Allah akan memberikan apa yang dia harapkan dan akan memberi rasa aman dengan apa yang dia takutkan.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu).
3.     Tidak diperbolehkan baginya untuk mengharapkan kematian segera menjemputnya ketika penyakitnya ternyata semakin menjadi parah dan memburuk.
“Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi pamannya ‘Abbas yang sedang sakit. Dia mengeluh dan berharap kematian segera datang menjemputnya. Maka beliau bersabda kepadanya: “Wahai pamanku, janganlah engkau berharap kematian itu datang. Jika engkau adalah orang baik, maka engkau bisa menambah kebaikanmu, dan itu baik untukmu. Namun jika engkau adalah orang yang banyak melakukan kesalahan, maka engkau dapat mengingkari dan membenahi kesalahanmu itu, dan itu baik bagimu. maka janganlah berharap akan kematian.” (HR. Ahmad dan Al-Hakim dari shahabiyyah Ummul Fadhl radhiyallahu ‘anha)
Namun ketika ternyata dia tidak bisa bersabar dan harus melakukannya, maka hendaknya dia mengucapkan:
“Ya Allah hidupkanlah aku apabila kehidupan itu lebih baik bagiku. Dan matikanlah aku apabila kematian itu lebih baik bagiku.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari shahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)
4.     Hendaknya dia berwasiat ketika merasa ajalnya telah dekat untuk dipersiapkan dan dilakukan pengurusan jenazahnya nanti sesuai dengan bimbingan syari’at dan tidak melakukan perbuatan-perbuatan bid’ah. Hal ini sebagai bentuk pengamalan firman Allah subhanahu wata’ala :
“Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (At-Tahrim: 6)
Dan di sana banyak kisah- kisah para sahabat yang mereka berwasiat dengan hal ini ketika merasa ajal segera menjemputnya. Salah satunya adalah kisah shahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu yang pernah berwasiat ketika dia merasa ajal telah dekat. Dia berkata:
Jika aku mati, janganlah kalian mengumumkannya. aku takut kalau perbuatan tersebut termasuk na’i (mengumumkan kematian yang dilarang sebagaimana dilakukan orang-orang jahiliyyah), karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah melarang perbuatan na’i tersebut.” (HR. At-Tirmidzi)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam kitabnya Al-Adzkar: “Sangat dianjurkan bagi seorang muslim untuk berwasiat kepada keluarganya agar meninggalkan kebiasaan atau adat yang ada dari berbagai bentuk kebid’ahan dalam penyelenggaraan jenazah. Dan hendaknya dia menekankan permasalahan itu.”
Wallahu A’lam.

Diringkas dari Kitab Ahkamul Jana-iz karya Al-‘Allamah Al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah oleh Al-Ustadz Abdullah Imam.





Syarat-syarat terkabulnya do’a
1) Hendaknya kita hanya meminta kepada Allah swt, tidak mempersekutukanNya dengan siapapun
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS Al-Fatihah 5)
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku.” (QS Al-Baqarah 186)
2) Hendaknya kita semakin banyak melaksanakan berbagai perintah Allah berlandaskan iman kepada-Nya, serta dengan jalan menghidupkan berbagai sunnah Rasulullah saw
”Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku.” (QS Al-Baqarah 186)
“Katakanlah, "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu."
Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Ali Imran 31)
3) Hendaknya isi redaksi do’a tidak hanya mencakup urusan dunia semata, melainkan mencakup urusan dunia dan akhirat sekaligus
“Maka di antara manusia ada orang yang berdo`a, "Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.
Dan di antara mereka ada orang yang berdo`a, "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka."
Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS Al-Baqarah 200-202)
“Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barangsiapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS Asy-Syuro 20)
4) Hendaknya do’a disampaikan dengan “merendahkan diri” dan “suara yang lembut”
“Berdo`alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS Al-A’raf 55)
Dalam Shahihain diriwayatkan bahwa Abu Musa Al-Asy’ari berkata bahwa orang-orang mengeraskan suaranya ketika berdo’a, maka Rasulullah saw bersabda:
 “Hai manusia, kasihanilah dirimu karena kamu bukan menyeru kepada yang tuli dan gha’ib (tidak ada), yang kamu seru itu adalah Maha Mendengar,
Maha Melihat dan Maha Dekat.”(HR Bukhari 22/385)
5) Hendaknya pada saat berdo’a memadukan di dalam jiwa perasaan “berharap” dan “takut”. Berharap kepada Allah swt agar do’a tersebut dikabulkanNya, dan cemas kalau-kalau do’a kita tidak dikabulkan, bahkan tidak didengarNya.
“…dan berdo`alah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan).” (QS Al-A’raf 56)
6) Hendaknya kita meyakini bahwa do’a kita pasti InsyaAllah dikabulkanNya. Cepat ataupun lambat. Di dunia ini maupun di akhirat kelak nanti. Yang penting kita tidak memaksa atau “mendikte” Allah swt, suatu hal yang memang mustahil.
 
“Dan Tuhanmu berfirman, "Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (QS Al-Mu’min 60)
Dan yang tidak kalah pentingnya bahwa seorang muslim tidak boleh pernah berhenti meminta kepadaNya, karena sikap demikian merupakan suatu kesombongan yang akan menjebloskannya ke dalam siksa Allah yang pedih. Maka Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa tidak berdo’a kepada Allah swt, maka Allah murka kepadaNya.”
(HR Ahmad).


10 Hal tidak dikabulkannya do’a :
Lampirkan kisah seorang ulama besar di zaman tabi’in,yang akan menjawab prasangka tentang tidak terkabulnya do’a.
Ibrahim bin Adham pernah ditanya oleh salah seorang muridnya,
“Mengapa doa kita sering tidak dikabulkan padahal Allah memberikan jaminan akan mengabulkan doa hamba-Nya?”
Ibrahim bin Adham menjawab,
“Sesungguhnya Allah swt. akan selalu mengabulkan doa hamba-Nya, namun ada beberapa perilaku manusia yang menghalangi dikabulkannya doa, yaitu:
1.      Kalian mengerti tentang Allah, tetapi mengapa kalian tidak menaati-Nya?
2.      Kalian membaca Al Quran, tetapi mengapa kalian tidak mengamalkan isinya?
3.      Kalian mengerti tentang setan, tetapi mengapa kalian mengikuti ajakannya?
4.      kalian mengaku cinta kepada Rasulullah saw., tetapi mengapa kalian mengingkari sunahnya?
5.      Kalian mengaku cinta pada surga, tetapi mengapa kalian tidak beramal untuknya?
6.      Kalian mengaku takut neraka, tetapi mengapa kalian selalu melakukan dosa?
7.      Kalian mengatakan bahwa mati itu pasti terjadi, tetapi mengapa kalian tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya?
8.      Kalian sibuk mengurus aib atau cela orang lain, tetapi mengapa kalian tidak mau memperhatikan aib sendiri?
9.      Kalian memakan rezeki Allah, tetapi mengapa kalian tidak bersyukur kepada-Nya?
10.  Kalian menguburkan mayat, tetapi mengapa kalian tidak mengambil pelajaran?


Penyebab Terhalangnya Doa

  • Mengkonsumsi Makanan Haram
Makanan haram dapat menghilangkan kekuatan doa dan melemahkannya. Dalam shahih muslim dan lainnya disebutkan hadist dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah saw bersabda : “Wahai manusia, sesungguhnya Allah Swt Maha Baik dan dia tidak akan menerima kecuali dari yang baik. Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang yang beriman dengan apa yang telah diperintahkan kepada para Rasul. Allah berfirman : ‘Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan’ (QS. Al-Mu’minun : 51). Dan berfirman pula : ‘Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah’ (QS. Al-Baqarah : 172). Kemudian Rasulullah menyebutkan tentang seorang yang melakukan perjalanan panjang, rambutnya terurai dan berdebu, lalu mengangkat tangannya ke langit : ‘Ya Rabbi, Ya Rabbi, ‘ sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiananya haram, dan dagingnya tumbuh dari yang haram. Maka bagaimana dia akan dikabulkan untuk itu ?” Hadist ini menunjukkan, sulit untuk dikabulkan orang yang makanannya tidak baik, minumannya tidak baik dan pakaiannya tidak baik. Orang yang berdoa ini, yang telah disebutkan oleh Nabi saw, melakukan perjalanan yang panjang. Padahal doa seorang musafir punya peluang besar dikabulkan.
  • Tergesa-gesa dan Putus Asa
Ini terjadi ketika seseorang berkata, misalnya “Aku sudah berkali-kali berdoa, namun tidak melihat tanda-tanda doaku itu diterima”. Ketergesaan ini merupakan salah satu sebab utama terhalangnya doa untuk dikabulkan. Yang diharapkan, seorang hamba mengetahui bahwa dia harus berdoa, memanjatkan kebutuhannya kepada Allah dan menyerahkan hasilnya hanya kepada-Nya. Seorang arab badui mengatakan “Ya Allah, aku berdoa kepada-Mu sebagaimana Engkau perintahkan kepadaku maka kabulkanlah doa kami sebagaimana Kau menjanjikannya kepada kami” Dalam shahih Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah r.a Rasulullah saw bersabda : “Akan dikabulkan untuk salah seorang dari kalian, selagi dia tidak tergesa-gesa, dengan mengatakan, ‘aku berdoa kepada Allah, namun Dia tidak mengabulkan” Dalam hadist ini, dan juga hadist sebelumnya terdapat anjuran bagi seseorang untuk tidak tergesa-gesa agar doanya diterima, hingga ia tak mau lagi berdoa. Jika demikian, dia sama persis dengan orang yang mengungkit-ungkit doanya. Atau dia merasa telah berdoa, yang dengan hal itu doanya harus dikabulkan, maka seakan-akan dia menjadi orang yang no. 1 bagi Allah Swt. Sebagian ulama mengatakan, “Ditangguhkannya pemberian meski sudah dilakukan berulang-ulang dalam doa tidak menjadi alasan bagi anda untuk berputus as. Karena Allah menjamin doa anda akan dikabulkan dalam bentuk yang akan Dia pilih untukmu, bukan dalam bentuk yang anda pilih. Dan dalam waktu yang Dia kehendaki, bukan waktu yang anda kehendaki”.
  • Doa Meminta Dosa dan Memutus Silaturahmi
Salah satu yang merusak doa adalah berdoa untuk suatu yang jelek dan jahat. Dalam hadist yang terdapat dalam shahih Muslim disebutkan ” “Seorang hamba akan selalu dikabulkan doanya selagi dia tidak berdoa untuk perbuatan dosa atau memutuskan silaturahmi, selagi dia tidak tergesa-gesa” Rasulullah saw bersabda : “Tidaklah seorang muslim berdoa kepada Allah Swt dengan sesuatu yang tidak mengandung perbuatan dosa atau memutuskan silaturahim, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga hal : adakalanya doa segera dikabulkan, adakalanya disimpan baginya di akhirat dan adakalanya dia dihindarkan dari keburukan seukuran doa itu” Para sahabat bertanya, ‘karena itu kami memperbanyak doa’ Nabi menjawab, ‘Allah Mahabanyak memberi” (HR. Ahmad <shahih>)
  • Mendoakan Keburukan untuk Diri Sendiri, Harta dan Anaknya
Rasulullah saw bersabda : “Janganlah kalian berdoa atas diri kalian kecuali dengan kebaikan, karena Malaikat mengamini apa yang kalian katakan” (HR.Muslim) Masuk dalam konteks ini adalah berdoa untuk kematian diri sendiri dengan tanpa adanya fitnah dalam agama. Rasulullah bersabda “Janganlah kalian berdoa meminta mati dan jangan mengharap-harapkannya. Jika ada orang yang harus berdoa maka hendaknya dia mengatakan, ‘Ya Allah hidupkan aku jika hidup itu lebih baik bagiku dan matikan aku jika kematian itu lebih baik bagiku” (HR. Ibnu Majah) Seseorang tidak boleh pula berdoa keburukan untuk anak dan harta, karena dikhawatirkan bertepatan waktunya dengan waktu-waktu yang dikabulkan. Rasulullah bersabda : “Janganlah kalian mendoakan keburukan untuk diri kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan untuk anak kalian, janganlah kalian mendoakan keburukan untuk harta kalian. Jangan sampai kalian berada dalam suatu waktu dengan Allah yang bila digunakan untuk berdoa (jelek), Allah akan mengabulkan doa (jelek) kalian.” (HR. Muslim)
  • Melakukan Perbuatan Zhalim dan Kemaksiatan
Kezhaliman adalah pelanggaran dan Allah tidak menyukain orang-orang yang melakukan pelanggaran. Secara logika, bagaimana orang yang mengenyampingkan hak manusia, lalu ia mengharapkan pada Allah agar Dia memberikan haknya ? Bagaimana bisa orang yang berbuat aniaya itu berusaha berdoa sedang orang yang ia aniaya juga berdoa, hingga doa orang yang ia aniaya itu menghancurkan doanya ? “Waspadalah pada doa orang yang terzhalimi. Allah akan mengangkat doanya di atas awan dan mengatakan kepada doa itu ‘demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku pasti akan menolongmu meskipun setelah beberapa waktu” (HR. Tirmidzi)
  • Meninggalkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Mengingkari kemungkaran adalah wajib bagi setiap orang islam yang dalam dirinya sudah terdapat syarat-syarat untuk itu. Mengingkari kemungkaran ada 3 tingakatan. Rasulullah saw bersabda : “Barangsiapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka hendaknya ia mengubahnya dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka hendaknya ia mengubahnya dengan hatinya. Dan itu adalah iman yang paling lemah” Al-Qur’an menjelaskan, melaksanakan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar merupakan salah satu sebab kebahagiaan. “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar ; mereka adalah orang-orang yang beruntung” (QS. Ali-Imron : 104) Allah memberi peringatan kepada hamba-Nya untuk tidak meninggalkan kewajibannya. Allah menjelaskan, meninggalkan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar merupakan salah saru sebab datangnya bencana. “Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan ‘Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu.” (QS. Al-Maidah : 78-79) Nabi menjelaskan, meninggalka kewajiban agama ini, bisa meratakan siksa Allah pada umatnya. Artinya tidak khusus kepada seseorang, namun kesemua orang. Di antara siksa tersebut, adalah tidak dikabulkannya doa.
  • Melakukan Dosa -dosa Tertentu
Rasulullah bersabda : “3 orang yang berdoa kepada Allah Swt namun tidak dikabulkan bagi mereka : seorang punya istri yang akhlaknya rusak namun ia tidak menceraikannya, seseorang yang menyerahkan hartanya pada orang lain namun ia tidak melakukan persaksian atasnya dan seorang yang memberikan harta pada orang yang lemah mentalnya” Ulama mengatakan, orang pertama, yang punya istri yang akhlaknya rusak namun tidak menceraikannya. Doa tidak dikabulkan karena ia menyiksa dirinya sendiri dengan terus berhubungan dengan istrinya, padahal ia punya kesempatan untuk menceraikannya. Orang kedua, yaitu orang yang punya hak harta atas orang lain, namun ia tidak melakukan persaksian hingga orang lain itu mengingkarinya. Jika pemilik harta itu mendoakan keburukan atas orang yag mengingkarinya, doanya tidak akan dikabulkan. Karena ia telah teladan melanggar ketentuan dengan tidak mematuhi perintah Allah Swt. Sedang orang ketiga, yaitu orang yang memberi harta pada orang yang safih (idiot), padahal ia tahu orang itu tertahan. Jika ia berdoa buruk pada anak itu doanya tidak akan diterima. Karena itu melanggar perintah Allah.
  • Meninggalkan Kewajiban dan Sunnah, serta Memusuhi Kekasih-kekasih Allah
“Sesungguhnya Allah berfirman (dalam hadist qudsi) : ‘Barangsiapa memusuhi kekasih-Ku maka Aku umumkan perang atasnya. Dan seorang hamba tidak mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku suka dari apa yang telah Aku wajibkan. Seorang hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amal-amal nafilah (sunnah) hingga Aku mencintainya. Dan jika Aku mencintainya, maka Aku akan menjadi pedengarannya yang dia gunakan untuk mendengar, Aku akan menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, Aku akan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk menangkap dan Aku akan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku pasti Aku akan memberinya dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku pasti dia akan Aku lindungi” Dengan demikian jika engkau ingin menjadi orang yang dikabulkan doanya, maka kasihanilah kekasih Allah dan musuhilah musuh Allah. Selain itu, selalu lakukanlah kewajiban-kewajiban dari Allah dan berusahalah sekuat upaya untuk melakukan amal-amal sunnah.


Do’a- do’a ^_^
Do'a Meminta Kesabaran
RABBANAA AFRIGH 'ALAINAA SHABRAN WA TSABITS AQDAAMANAA WANSHURNA 'ALALQAUMIL KAAFIRIINA.

Artinya: Ya Allah Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran atas kami, dan tolonglah kami atas orang-orang kafir."

Referensi .. do’a2 didalam Al-Qur’an ^_^

Do’a agar diberi jalan keluar yang baik (17:80)
Do’a agar diberi kemudahan dalam menyelesaikan masalah (20:25-28)
Do’a agar ditambah ilmu (20:114)
Do’a agar dilindungi dari godaan syetan (23:97-98)
Do’a agar diampuni dosa dan dirahmati (23:109)






"Yakinlah bahwa hidup kita sudah diatur oleh Allah dengan komposisi yang pas.. komposisi yang sama antara satu dengan yang lain.. bisa jadi kita sedang ditimpa cobaan saat ini supaya kita bisa bersabar lebih banyak dari pada orang lain,,,
Ilmu sabar tak akan pernah didapat dari sekolah.. tapi ilmu sabar hanya bisa didapat dari sebanyak apa pengalaman yang selalu kita sabarkan.. mungkin saat ini kita mempunyai kekurangan dari orang lain.. tapi kalau dari segi kesabaran .. Wallahu’alam.. ^_^
yakinlah didalam hati bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik bagi hambanya.. namun didalam proses penantian itu kita diharuskan untuk mempersiapkan peluru sabar lebih banyak..
Bisa jadi juga Allah memberikan cobaan dengan maksud peringatan buat kita agar lebih memperbaiki diri.. mengingat kesalahan2 masa lalu yang mengantarkan kita pada keadaan sekarang.. walaupun dimasa lalu hanya hati yang bermain. Siapa tau didalam isi hati itu pernah terdapat hinaan terhadap orang lain. Pernah terdapat cercaan, kesombongan.. minta ma’af lah kepada semua orang yang pernah dicerca oleh hati..
Karena semuanya diciptakan oleh Allah dengan hikmah termanisnya.. ^_^
Bersabar dan lapangkan dada..
Hanya kepada Allah mengadu dan kadukanlah semua beban didalam hati..kadukan semua gundah didalam hati..
Mencoba belajar berdialog dari hati kecil kepada Allah. Insya Allah tidak akan pernah ada lagi rasa kurang syukur dari dalam hati.. yang ada adalah kesyukuran memuncah didalam jiwa.. ^_^

Wallahu’alam bishawab"

(C-H)

0 komentar:

Posting Komentar

 

Segores Tinta, Sekeping Hati, Mujahidah Sejati Blog by Corrina | Facebook