Sabtu, 02 November 2013

Membersamaimu

Diposting oleh Corrina Heparti Novsyiami di 23.07
Juara 2 Lomba Cerpen Pekan Kreativitas Muslimah Tingkat Sumatera Barat FKI Rabbani - Unand
MEMBERSAMAIMU
……. “Kau benar-benar membuatku kecewa, dasar tidak berguna” aku melempar jauh dia yang telah membersamaiku. Dia hanya diam bahkan tidak bereaksi sedikitpun, pasrah mungkin akan nasibnya…………..
*****************************************************************
Siang ini terasa amat berbeda, panas sekali, bahkan rasanya ujung-ujung kulitku sudah berteriak kebakaran. Suhu hampir melewati ambang batas kewajaran tapi untuk tetap menonjolkan kemulusan dan hitam legam lambaianya masih menjadi gengsi utamaku. Peduli setan dengan panas, yang penting aku tetap yang tercantik diantara mereka.
Lingkunganku mulai berbeda dari biasanya, kalau dahulu semasa SMP aku berbaur dengan anak kulit putih dan modis. Namun sekarang, hanya kepala berkerudung yang kulihat disudut kiri dan kanannya.  “Dasar tidak modis, baju macam apa itu, kayak punya nenek-nenek” umpatku dalam hati kepada teman seangkatan baruku, aku sering memperhatikan mereka. Aku merasa ‘aduh dandanan mereka itu loh tidak modis sama sekali’.
“Hai varta, kemesjid yuk” salah seorang teman seangkatanku menarik tas ranselku.
“Eh iya, duluan aja, aku sholat dirumah” aku merasa mereka sok sekali mengajakku kemesjid, mereka siapa sih, alimnya pake acara sok-sok an.
            Siapa sih yang tidak suka dipuja dan digandrungi cowok-cowok, haduh, ini yang kusuka, digandrungi banyak lelaki. Semakin mereka memuja kecantikanku. Semakin akan aku perlihatkan kepada mereka bahwa aku cantik dan layak dipuja. Dilingkungan ini aku merasa paling cantik, ih siapa coba  yang akan menyaingiku semuanya kampungan sih, batinku seolah-olah menang.
            SMS dan telfon datang bertubi-tubi, minta kenalanlah, salah sambunglah, alah gaya mereka saja sindir hatiku. Aku hanya tersenyum. Banyak juga ya pemujaku. Aku merasa semakin menang dan senang. Semakin hari mereka yang ingin kenalan dan dinobatkan menjadi pemujaku semakin bertambah saja jumlahnya. Otomatis aku harus selalu tampil modis dan cantik setiap saat. Siapa sih yang tidak kenal varta? itu loh wanita tercantik satu SMA ini, batinku berteriak senang.
            Setiap pagi selalu ada saja yang menjemputku dan memberikan barang-barang kesukaanku. Mereka entah sudah membuat jadwal sendiri untuk memikat hatiku, tapi tentu saja bagiku itu hanya sebatas kesenangan dan pemanfaatan semata.
******************************************
“ Ha dia? Tidak lebih….” Aku sayup mendengar mereka pemujaku membicarakan tentang diriku, ku pasang telinga lebih tajam
“Diakan hanya untuk main-main, siapa coba yang mau serius sama dia, sudah bekas banyak orang, ih, kalau gue  mah ogah, dia itu ngak lebih buat senang-senang aja boy”
“Iya bener banget, pasti suaminya rugi banget dapet istri kayak dia, udah sering dimainin orang” terdengar tawa mereka pecah dilangit-langit sekolah.
Aku diam terpaku. Rasanya kali ini harga diriku jatuh sekali. Aku balik arah dan pulang. Mereka benar-benar menampar keras diriku. Selama ini, ah, siapa yang tidak akan memuja kecantikanku. Sekali lihat dapat dipastikan mereka akan tunduk dan jadi pemujaku. Sekarang ? Entahlah.
Lama sekali aku merenung mengenai ini. Jadi selama ini mereka hanya menjadikan diriku objek kesenangan mereka. Hati kecilku sebenarnya tahu, tapi dipuja dan diagungkan itu benar membuatku lupa. Dirumah, aku hanya menangis sejadinya. Aku jatuh, aku tidak berharga lagi.
 Aku mulai mencari entah siapa yang akan mengobati luka hatiku. Kutelfon satu persatu mereka yang kukenal sebagai sahabat, tapi mereka tidak memberikan apa-apa, simpati saja tidak. Sampai pada nomor terakhir, berharap dia mau menjawab  dan memberikan sedikit suplemen  buat hatiku. Luar biasa, dia peduli, bahkan  menjajikan surat untukku.
“Wahai wanita cantik, kecantikanmu bukanlah untuk dinikmati setiap orang”
“Wahai wanita cantik, kecantikanmu adalah hadiah terindah untuk suamimu”
“Wahai wanita cantik, kecantikanmu adalah mutiara yang harus dijaga dan diserahkan kepada yang berhak. Maka tutuplah apa yang akan dihadiahkan nanti”
Kertas itu membuat aku tersentak dan sadar. Batinku menjawab tutup saja -- tutup saja -- tutup saja. Maka hari itu aku bertekad menggunakan pelindung tubuh dan kepala. Tidak ada lagi kulit mulus  yang terpampang, tidak ada lagi rambut hitam legam terurai. Aku juga sudah tidak lagi merespon sms dan telfon dari pemujaku.
“Apa sih ? sok alim sekarang ya. Sadar donk kamu itu udah kami mainin ya, trus mau jadi alim, biar ada yang simpati?” mereka yang selama ini  menjadi pemujaku. Bahkan sekarang berada digardu depan mencemooh dan menghinaku. Aku hanya diam dan tidak mengindahkan mereka.
“Kau benar-benar membuatku kecewa, dasar tidak berguna” aku melempar jauh dia yang telah membersamaiku. Dia hanya diam bahkan tidak bereaksi sedikitpun. Pasrah mungkin akan nasibnya. jelbab yang tidak bersalah itu menjadi hempasan kemarahanku. Aku sudah berusaha merubah diri, tapi mereka masih saja menganggap hina diriku. Apakah aku benar-benar hina ? Apa jelbab ini tidak berguna? Aku benar-benar sudah tidak bisa lagi menerima cemoohan mantan pemujaku. Didalam kemelut panjang kucari lagi dia yang telah membuatku membersamainya. Kami bertemu dilorong sekolah. Dengan suara khas dan nadanya yang lembut. Dia tersenyum dan menasehatiku lagi
…….“Wahai wanita cantik, kita dinilai bukan dari kecantikan lahiriah, tapi kecantikan kita dinilai sejauh mana kita bertakwa kepada Allah. Wahai wanita cantik, tidak usah pedulikan mereka yang menghina dan menghambat langkahmu. Bukan jelbab ini yang membuat kita alim, tapi dengan jelbab ini yang membuat kita semakin ingin memperbaiki diri”

Dia membantuku memasangkan lagi jelbab yang telah terlempar jauh, dibersihkannya, aku pasang dan kami seolah-olah menyatu lagi, saling membersamai lagi “Semangat karena Allah temanku” dia berteriak lantang dan membuat aku memiliki semangat lagi. Aku senyum dan patah-patah mengulangi kalimatnya. “Semangat karena Allah temanku………….”

0 komentar:

Posting Komentar

 

Segores Tinta, Sekeping Hati, Mujahidah Sejati Blog by Corrina | Facebook